Sejak di tinggal almarhum suaminya Awaludin pada tahun 2004 silam, Rohaya mengurus 8 orang anak dengan hari-hari yang hanya terbuat dari do’a dan harapan, ia tidak pernah menaruh rasa pesimis untuk menafkahi dan menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi anak-anak yang masih kecil dikala itu. Baginya, manusia di dunia ini hanya mengusahakan ikhtiar dalam batasan takdir.

Batasan takdir itu melangitkan do’anya, berkat kerja keras dan kegigihan sosok perempuan tangguh ini, anak-anaknya bisa tumbuh besar, berkeluarga dan ada yang bisa mengenyam pendidikan hingga ada yang merengkuh gelar sarjana, ia bernama Rosim Nyerupa.

Universitas Lampung adalah mimpi semua anak desa di Lampung, Rosim yang sangat gemar berorganisasi sejak sekolah menengah pertama, Ia pernah menduduki jabatan Ketua OSIS saat duduk dibangku SMPN 2 Gunungsugih. Saat duduk dibangku kelas XI Ia terpilih sebagai Ketua OSIS SMAN 1 Gunungsugih yang dipilih langsung oleh siswa melalui pemilihan umum. Saat ke dinyatakan lulus SMA, Rosim dinobatkan sebagai siswa berprestasi tahun 2012 saat acara perpisahan siswa yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Kemudian dinyatakan diterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung. Perasaan Rohaya bercampur aduk, bahagia dan khawatir, khawatir anaknya berhenti di tengah jalan mengingat keterbatasan materi yang disadarinya. Namun semua keresahan itu terbantahkan, Rosim mampu menunaikan amanah emaknya untuk menjadi sarjana ilmu Pemerintahan. Walau dengan terbata-bata, kesulitan dan kemandirian hidup membawa mereka memiliki jiwa dan hati yang seluas samudera.

Namun, bagi Rohaya, anak-anak adalah investasi, yang bisa ia tinggalkan hanya semangat pantang menyerah terhadap kerasnya dunia, supaya anak-anaknya mengerti, kita hanya perlu mengusahakannya dengan tekun.

Rohaya berharap bahwa do’anya kepada Allah SWT mengharapkan yang terbaik bagi anak kelak mereka sebagai amal jariyah yang terus mengalir menjadi penolong orang tua ketika waktu menamatkan usianya di dunia. Kegigihan dan keinginan kuat itu disadarinya karena ia tidak ingin anak-anaknya putus sekolah, Doa dan ikhtiar jadi senjata.

Bagi Rosim, Emak adalah pahlawan pertama dalam hidup kami, perempuan paruh baya yang tak pernah mengutuk takdirnya walau terasa berat tetap dijalani dengan penuh harapan. Rasanya biarlah mereka punya dunia, aku punya emak yang betul-betul menyayangi dan mencintai kami sepenuh hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here